Riauterkini - TELUKKUANTAN - Di bawah deretan nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Dharma Pekanbaru, terselip satu nama yang membawa ingatan pada deru perlawanan rakyat Riau di masa silam.
Di Blok G Nomor 375, bersemayam seorang tokoh adat yang semasa hidupnya memilih memanggul senjata daripada tunduk kepada penjajah: Datuk Bandaro Kuning, kakek dari Bupati Kuansing, Dr. H. Suhardiman Amby.
Ia bukan sekadar nama dalam daftar veteran atau tokoh daerah. Bagi masyarakat Kenegerian Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Datuk Bandaro Kuning adalah simbol marwah dan harga diri negeri.
Sosoknya dikenang sebagai penjaga tanah ulayat, pemimpin adat, sekaligus panglima rakyat yang berdiri di garis depan melawan kolonialisme Belanda.
Panglima Adat di Garis Perlawanan
Gelar “Datuk Bandaro Kuning” bukan sekadar sebutan kehormatan. Gelar itu melekat pada seorang ninik mamak, pemangku adat yang menjadi payung bagi anak kemenakan di Inuman.
Namun dalam perjalanan sejarah, perannya melampaui tugas-tugas adat semata.
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika Belanda mulai mengincar kawasan Pulau Godang yang diyakini memiliki potensi emas, Datuk Bandaro Kuning tampil memimpin perlawanan rakyat.
Bersama tokoh-tokoh adat lainnya seperti Datuk Tabano dan Datuk Bandaro Sati, ia merajut kekuatan rakyat dari wilayah Limo Koto Kampar hingga Kuantan Singingi.
Lembah dan aliran sungai di pedalaman Riau menjadi saksi bagaimana pasukan adat melakukan perlawanan gerilya terhadap kolonial Belanda yang dipimpin Perwira Berenchat.
Berbekal senjata tradisional, keberanian, dan pengetahuan mendalam tentang rimba belantara, mereka mampu membuat pasukan penjajah kewalahan.
Bagi Datuk Bandaro Kuning, mempertahankan tanah leluhur bukan sekadar perjuangan fisik, melainkan menjaga kehormatan adat dan kedaulatan negeri.
Marwah yang Tak Terbeli
Salah satu nilai yang paling dikenang masyarakat Inuman dari sosok Datuk Bandaro Kuning adalah keteguhannya memegang prinsip.
Di tengah berbagai bujukan dan tawaran kerja sama dari pihak kolonial, ia memilih tetap berada di jalan perlawanan.
Baginya, marwah adat tidak dapat ditukar dengan jabatan, kekuasaan, ataupun emas. Sikap itulah yang membuat namanya terus hidup dalam cerita-cerita lisan masyarakat, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Meski kini jasadnya beristirahat di Pekanbaru, jauh dari tepian Sungai Kuantan yang pernah ia bela, semangat perjuangannya tetap melekat dalam ingatan masyarakat Inuman.
Warisan Cerita dari Sang Cucu
Bagi Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, MM, Datuk Bandaro Kuning bukan hanya tokoh sejarah. Ia adalah kakek, sosok pejuang yang kisahnya menjadi bagian dari masa kecil keluarga mereka.
"Dulu waktu kami kecil, ibu saya sering bercerita tentang lika-liku perjuangan sang datuk," kenang Suhardiman Amby dengan mata berkaca-kaca saat berziarah di pusara sang kakek, Senin (11/5/2026) lalu.
Suasana haru begitu terasa ketika Suhardiman menaburkan bunga di atas nisan bernomor 375 tersebut. Di hadapan pusara sang leluhur, ia seolah diingatkan kembali tentang amanah sejarah yang kini berada di pundaknya.
H. Suhardiman Amby, yang bergelar Datuk Panglimo Dalam dan juga pendiri Pesantren Imam Saleh Inuman, menegaskan bahwa perjuangan Datuk Bandaro Kuning tidak boleh disia-siakan oleh generasi penerus.
"Tugas kita hari ini bukan lagi memegang bedil, melainkan melanjutkan pengabdian almarhum. Harapan saya sebagai cucu, yang kini juga dipercaya menjadi Bupati di Kuantan Singingi, adalah menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Kuansing, tanah yang dahulu diperjuangkan oleh kakek kami," ujar Suhardiman lirih.
Menolak Lupa
Meski gelar “Pahlawan Nasional” belum secara resmi disematkan pada namanya, bagi masyarakat Inuman dan Kuantan Singingi, Datuk Bandaro Kuning telah lama bertakhta sebagai pahlawan di hati rakyatnya.
Ziarah sang cucu di TMP Kusuma Dharma menjadi pengingat bahwa di balik sunyinya pusara para pejuang, tersimpan kisah-kisah besar tentang keberanian, pengorbanan, dan kecintaan terhadap negeri.
Datuk Bandaro Kuning telah menunaikan tugasnya menjaga marwah tanah ulayat. Kini, tugas generasi peneruslah menjaga agar namanya tetap hidup dalam sejarah dan tidak lekang dimakan waktu.*** (Jok)