Riauterkini - PEKANBARU - Nama Dr Aldrin Herwany menjadi salah satu figur akademisi yang mendapat perhatian dalam dinamika pendidikan tinggi nasional, khususnya terkait gagasan transformasi perguruan tinggi menuju standar global. Akademisi senior yang kini berkiprah di Perbanas Institute Jakarta itu dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi, tata kelola institusi, diplomasi pendidikan, hingga pengembangan riset internasional.
Aldrin saat ini menyandang jabatan akademik Lektor Kepala dengan pangkat Pembina IV/a. Ia memiliki spesialisasi di bidang Econometrics of Financial Markets dan dikenal aktif mendorong integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan pendidikan tinggi serta tata kelola modern.
Putra Riau yang menempuh pendidikan dasar hingga menengah di lingkungan YPP-7 Pertamina Dumai itu memulai perjalanan akademiknya di Universitas Riau dengan meraih gelar Sarjana Manajemen pada 1995. Pendidikan lanjutannya ditempuh di Universitas Padjadjaran untuk program Magister Manajemen Keuangan pada 2004, sebelum menyelesaikan studi doktoral bidang Administrasi Bisnis Keuangan di International Islamic University Malaysia tahun 2013.
"Kerja keras dan terus belajar adalah kunci keberhasilan," kata Dr Aldrin Herwany, Jumat (29/5/26).
Karier akademiknya berkembang pesat di Universitas Padjadjaran. Aldrin memulai jabatan sebagai Asisten Ahli pada 2007, kemudian menjadi Lektor tahun 2011 dan meraih jabatan Lektor Kepala pada 2016.
Di lingkungan akademik, Aldrin dikenal sebagai salah satu sosok yang aktif membangun budaya riset dan publikasi ilmiah internasional.
Ia disebut berhasil mendorong transformasi ekosistem riset di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran sehingga mampu bersaing di tingkat global.
Kontribusinya turut mengantarkan Program Studi Manajemen FEB Unpad meraih Akreditasi A “Gemuk”, yang saat itu menjadi simbol kualitas unggulan pendidikan manajemen di Indonesia.
Tak hanya itu, Aldrin bersama tim peneliti juga berhasil meraih penghargaan Outstanding Research secara berturut-turut pada 2008 dan 2009 di Amerika Serikat serta tahun 2011 di Kosta Rika. Karier internasional Aldrin semakin menonjol ketika dipercaya pemerintah Indonesia menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Kedutaan Besar RI New Delhi, India, periode 2022 hingga 2025.
Dalam tugas diplomatik tersebut, Aldrin memimpin berbagai kerja sama pendidikan dan riset internasional antara Indonesia dan India. Ia tercatat berhasil menginisiasi lebih dari 100 nota kesepahaman (MoU) kerja sama antaruniversitas kedua negara.
Selain itu, Aldrin juga dipercaya menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam forum G20 India tahun 2023 untuk bidang Pendidikan, Riset, dan Kebudayaan. Dalam forum internasional tersebut, ia mewakili pemerintah Indonesia dalam berbagai pembahasan strategis terkait pendidikan global, inovasi riset, serta diplomasi budaya.
Ia juga terlibat dalam misi diplomatik repatriasi Prasasti Pucangan dari Kolkata, India, ke Indonesia sebagai bagian dari penguatan diplomasi kebudayaan nasional.
Di tingkat nasional, Aldrin dikenal aktif memberikan kontribusi terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI periode 2016–2019 yang bertugas memberikan masukan strategis kepada Presiden RI terkait pembangunan ekonomi dan industri nasional.
Pengalamannya di bidang organisasi profesi juga cukup panjang. Aldrin pernah menjabat Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bandung Koordinator Jawa Barat selama dua periode, yakni 2015–2021.
Pada masa kepemimpinannya, ia mendirikan West Java Economic Society (WJES), forum kolaboratif antara akademisi, Bank Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan kebijakan ekonomi daerah.
Selain dunia akademik dan organisasi profesi, Aldrin juga memiliki pengalaman di sektor korporasi sebagai anggota Dewan Komisaris PT Asuransi Bangun Askrida (Askrida) periode 2018–2019.
Dengan pengalaman akademik, diplomasi internasional, hingga tata kelola organisasi yang luas, Aldrin membawa visi besar dalam pengembangan pendidikan tinggi Indonesia, khususnya bagi Universitas Riau. Ia mengusung konsep kepemimpinan “UNRI Satu” yang menitikberatkan pada tata kelola inklusif, transparansi, serta penghapusan sekat-sekat kelompok dalam lingkungan kampus.
Menurut Aldrin, perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat inovasi dan peradaban yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus mampu bersaing di tingkat dunia tanpa meninggalkan identitas lokal dan nilai kebangsaan.
“Tidak boleh ada sekat kelompok dalam membangun masa depan universitas. Semua harus bergerak bersama untuk membawa institusi menjadi lebih maju dan berdaya saing global,” ujar Aldrin. ***(mok)