Riauterkini-RENGAT-Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indragiri Hulu (Inhu), kondisi Inhu akan mengalami Hari Tanpa Hujan (HPH) yang sangat panjang. Kondisi ini akan membuat meluasnya resiko kebakaran wilayah berpotensi Karhutla.
“Kabupaten Inhu berdasarkan pemantauan BMKG mengalami HTH, hari tanpa hujan yang sangat panjang untuk wilayah Propinsi Riau, sebaiknya semua pemangku kepentingan waspada meluasnya risiko kebakaran wilayah berpotensi Karhutla dan tetap jaga stamina untuk seluruh masyarakat,” tegas Kepala BMKG Inhu
Nancy Luciana Damanik, ST, M.Si kepada riauterkinicom, Rabu (12/8/26) melalui selulernya.
Berdasarkan analisa BMKG, sebagian
besar wilayah provinsi Riau mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026, kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena pada periode puncak kemarau, curah hujan lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya sehingga dapat meningkatkan potensi terjadinya hari tanpa hujan yang lebih panjang serta kondisi cuaca yang lebih kering.
“Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan yang semakin kering, terutama terhadap potensi kekurangan air, penurunan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian, serta meningkatnya risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” imbau nya.
Kondisi ini dipicu El Nino kuat dengan nilai anomali SST di region Nino3.4 pada periode Mei-Juni-Juli (MJJ) 2026 mencapai +1.59, menunjukkan El Nino kuat masih berlangsung dan berpotensi mengalami penguatan. Situasi yang juga perlu diwaspadai adalah karena bertepatan dengan prediksi IOD Positif yang berpotensi aktif pada periode September hingga Desember 2026, yang mana kondisi dinamika atmosfer ini cukup berpengaruh di wilayah Riau.
“Jadi fokus kewaspadaan kita bukan label "super" atau semacamnya. Kombinasi dua fenomena resmi ini — El Nino kuat dan IOD positif dapat mengakibatkan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau,” tegasnya.
Diungkapkanya, periode paling kritis akan terjadi sekitar dua bulan kedepan (Agustus–September), tapi potensi kekeringan akibat kombinasi El Nino kuat dan IOD Positif ini bisa membentang hingga akhir tahun, bahkan dampak susulannya berpotensi terasa sampai awal 2027.
“Karena itu kami mendorong agar upaya pencegahan Karhutla di lahan gambut tidak hanya fokus di Agustus-September saja, tapi terus dijaga kewaspadaannya sampai musim hujan benar-benar stabil,” ungkapnya.
Ditambahkanya, pengelolaan sumber daya air secara bijak dan pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal yang penting dilakukan selama periode ini. Kondisi puncak musim kemarau juga perlu menjadi perhatian bagi sektor pertanian.
“Penyesuaian waktu tanam, pengelolaan kebutuhan air, serta pemanfaatan informasi iklim dapat membantu mengurangi risiko dampak,” tandasnya.
Berdasarkan hasil prakiraan tiga bulan kedepan, wilayah Provinsi Riau yang lebih kering dibandingkan dengan wilayah lainnya adalah Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Indragiri Hilir, terutama pada bulan Agustus dan September. Curah hujan di wilayah tersebut diprediksi berada pada kategori Rendah (50 -100 mm),hingga menengah (100 – 200 mm).
“Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) update 10 Agustus 2026 terdapat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori Sangat Panjang (31 – 60 hari), yaitu Kabupaten Indragiri Hulu (Kec. Batang Gansal dan Kec. Kuala Cenaku). Oleh sebab itu, wilayah tersebut harus waspada terhadap terjadinya kekeringan, baik kekeringan meterologis maupun klimatologis,” jelasnya. *** (guh)